Ilustrasi

Calon Tunggal di Pilkada Banten

Pada Pilkada serentak 2017, terdapat sembilan daerah dengan calon tunggal. Delapan di antara mereka adalah inkumben di daerahnya masing-masing, kecuali Karolin Margret Natasa, yang kemudian menjadi Bupati Landak, Kalbar. Karolin adalah putri Gubernur Kalimantan Barat Cornelis; kini dia dicalonkan untuk menggantikan sang ayah.

Hingga penutupan pendaftaran bakal calon kepala daerah pada 10 Januari 2018, diperkirakan terdapat 13 daerah dengan calon tunggal, sebagai berikut: 1. Kota Prabumulih, Sumsel; 2. Kabupaten Lebak, Banten; 3. Kabupaten Tangerang, Banten; 4. Kota Tangerang, Banten; 5. Kabupaten Pasuruan, Jatim; 6. Kabupaten Karanganyar, Jateng; 7. Kabupaten Enrekang, Sulsel; 8. Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulut; 9. Kabupaten Tapin, Kalsel; 10. Kabupaten Puncak, Papua; 11. Kabupaten Mamasa, Sulbar; 12. Kabupaten Jayawijaya, Papua; dan 13. Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumut.

Kondisi di Provinsi Banten lebih memprihatinkan, karena tiga di antara empat daerah yang menyelenggarakan Pilkada 2018 di wilayah tersebut memiliki hanya calon tunggal. Di luar Kabupaten Lebak, Kota Tangerang, dan Kabupaten Tangerang, hanya Kota Serang yang memiliki tiga pasangan mendaftar ke KPUD. Itu pun dipengaruhi oleh fakta bahwa inkumben Tubagus Haerul Jaman tidak mungkin kembali mendaftar karena telah menjabat wali kota Serang selama dua periode.

Di Kabupaten Lebak, Iti Octavia Jayabaya dan Ade Sumardi menjadi calon tunggal dengan dukungan 11 partai. Ahmad Zaki Iskandar dan Mad Romly menjadi calon tunggal di Kabupaten Tangerang, dengan dukungan koalisi 12 partai. Sementara di Kota Tangerang, Arief R Wismansyah dan Sachrudin menjadi calon tunggal dengan dukungan koalisi 10 partai. Iti, Zaki, dan Arief adalah inkumben di daerah masing-masing.

Pada keempat daerah kita mendapati dominasi politik yang kuat. Di Kabupaten Lebak, Iti merupakan putri Mulyadi Jayabaya, Bupati Lebak 2003-2013. Di Kabupaten Tangerang, Zaki merupakan putra Ismet Iskandar, Bupati Tangerang 2003-2013. Di Kota Serang, salah satu calon, yaitu Vera Nurlaila merupakan istri petahana Wali Kota Serang Haerul Jaman. Sedangkan di Kota Tangerang, Arief kini dominan hanya setelah menggeser dominasi Wahidin Halim, Wali Kota Tangerang 2003-2013.

Situasi ini tidak lepas dari memusatnya kekuasaan ekonomi dan politik di tangan segelintir oligarkh. Eksistensi partai politik sekadar meneguhkan dominasi tersebut, karena mereka bertahan dan tumbuh dalam pusaran perburuan rente. Pada sisi civil society, tidak terdapat kekuatan kontrol yang memadai akibat lemahnya sumber daya mereka dibandingkan elite. Ketiadaan wacana alternatif hanya membuat masyarakat terombang-ambing dari cengkeraman kekuasaan elite yang satu ke elite yang lain.

Arif Susanto
[email protected]

Share this entry:
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *