Korupsi Politik

Salah satu akar korupsi politik adalah kuatnya klientelisme dalam tubuh parpol. Di sini hubungan antara pemimpin parpol dan anggotanya selayaknya patron dan klien. Tingkat dukungan terhadap sang patron berkorelasi positif dengan tingkat imbalan yang dia berikan kepada klien. Inilah yang menyebabkan politik berbiaya tinggi, termasuk dalam Pemilu legislatif maupun eksekutif.

Pada sisi lain, struktur parpol cenderung sentralistik dengan kekuasaan memusat pada sang ketua. Distribusi sumber daya kekuasaan akan menentukan posisi sang ketua; semakin luas distribusi, semakin besar pengaruh dirinya. Peluang penyalahgunaan kekuasaan berjalan seiring longgarnya etika politik di tengah tingginya tuntutan untuk menghidupi klien.

Parpol pun menjadi kian permisif dengan korupsi karena, dalam jerat klientelisme, tindakan keliru itulah yang dapat menjaga pengaruh partai tetap meluas. Selain itu, tidak ada kehendak politik untuk memutus rantai ketergantungan terhadap elite. Akhirnya, elite justru menyalahgunakan kekuasaan demi mengakumulasi sumber daya untuk diri dan kelompok sendiri.

Solusinya bukanlah pembubaran parpol, sebab demokrasi sulit hidup tanpa parpol sebagai representasi kepentingan. Bukan pula dengan menggelontorkan APBN untuk membiayai parpol. Memang perlu ada subsidi APBN untuk parpol, tetapi bukan untuk menutup pengeluaran parpol yang begitu besar, melainkan untuk sekadar menjaga keberlangsungan organisasi.

Parpol harus berbenah serius, jika tidak, orang semakin kehilangan kepercayaan pada parpol. Pertama, bangun pelembagaan politik dan kembangkan egalitarianisme dalam parpol. Kedua, perkuat akuntabilitas dan transparansi dalam parpol. Ketiga, bangun keterkaitan kukuh antara parpol dan publik pemilih. Tanpa itu, parpol hanya akan membiakkan para koruptor.

Share this entry:
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *