Mempertahankan Kesatuan Bangsa

Tampaknya, tantangan terbesar Bangsa Indonesia sekarang ini adalah mempertahankan rasa kesatuan sebagai satu bangsa. Dikotomi yang dipicu kontestasi di pilkada DKI dan meruncing mulai penghujung tahun lalu bisa bermuara pada kondisi yang amat merisaukan, dikotomi salah kaprah antara Islam dan nasionalis. 

Di sisi lain, intoleransi perlu dihilangkan. Islam di Indonesia adalah Islam yang hidup dalam tradisi dan budaya bangsa. Sebagaimana bentuk Ketuhanan yang pernah dikatakan Bung Karno sebagai Ketuhanan yang berkebudayaan. Artinya, Ketuhanan yang menjiwai falsafah hidup bangsa Indonesia adalah Ketuhanan yang tidak hidup di ruang hampa, melainkan Ketuhanan yang hidup dalam tradisi dan budaya bangsa di mana toleransi adalah bagian tak terpisahkan.

Dikotomi salah kaprah yang berpotensi menyimpangkan bangsa dari sejarah ini masih terus terjadi. Dalam hal ini, kedua belah pihak menyumbang peran yang sama besarnya dalam menjerumuskan bangsa pada kondisi yang tidak bisa lain selain fragmentasi. Desakan bermakna pemaksaan kehendak di satu sisi, dan cap tidak nasionalis kepada kalangan tertentu di sisi lain, bisa menghilangkan ikatan dan daya hidup (elan vital) sebagai satu bangsa.

Teringat pesan Bung Karno, “Kalau kita mengecualikan elemen agama, kita membuang salah satu elemen yang bisa mempersatukan batin Bangsa Indonesia dengan cara yang semesra-mesranya.”  Setiap pernyataan yang bermakna memisahkan salah-satu agama dari kehidupan berbangsa sama saja mematikan daya hidup, kesadaran sebagai satu bangsa.

Lantas apa yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan luka batin bangsa ini. Setidaknya terdapat beberapa prasyarat pendahuluan.

  • Pertama, jangan pernah ada upaya meminggirkan, memisahkan atau “membuang” salah-satu agama dari nilai kebangsaan. Memisahkan Islam dari kebangsaan sama saja memastikan perpecahan.
  • Kedua, upaya memperkuat rasa kebangsaan jangan dilakukan dengan menunjukkan inilah AKU dan kamu tidak termasuk golonganku. Semua pihak berhenti mem-bully, mengejek, merendahkan, dan mengkafirkan pihak lain
  • Ketiga, kekuasaan dan lingkarannya harus selalu berada dalam koridor demokrasi dalam merespons berbagai perkembangan. Kedaulatan tetap harus di tangan rakyat, sementara penguasa dan otoritas hanyalah pelayan rakyat.
  • Keempat, isilah kehidupan berbangsa ini dengan kegiatan “saling merangkul” seraya menghentikan sikap saling menyalahkan, saling menuduh, sok benar sendiri, sok nasionalis sendiri. Setiap pemikiran yang menilai negatif, buruk, rendah, pihak lain adalah merupakan pemikiran yang bersifat memecah belah. Setiap pemikiran seperti itu, berperan sama besarnya dalam menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa.
  • Kelima, semua pihak perlu memiliki kesadaran bahwa Islam Indonesia adalah Islam yang menyatu dalam tradisi dan budaya bangsa. Islam sejak awal kedatangannya ke Indonesia hidup melebur dalam budaya. Semua elemen harus memelihara sikap saling hormat-menghormati, harga-menghargai dengan sesama bangsa Indonesia dari berbagai agama dan kepercayaan.
Share this entry:
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *