Ilustrasi.

Menghindari Reproduksi Politikus Predator

Esensi demokrasi adalah permusyawaratan rakyat. Dengan pemahaman tersebut, kita tidak akan menempatkan Pemilu sebagai puncak demokrasi; melainkan sebagai satu di antara tahapan dalam komunikasi politik berkelanjutan antara elite dan massa. Pemahaman ini berkemungkinan menghindarkan kita dari berhala elektabilitas dan pemujaan berlebihan Pemilu.

Sayangnya, gejala terakhir inilah yang kerap kita saksikan dalam pengelolaan politik oleh berbagai Parpol. Dampaknya, pencalonan anggota legislatif dalam Pemilu lebih memprioritaskan aspek keterkenalan dan keterpilihan sembari mengabaikan aspek integritas maupun kapabilitas. Pemilu lantas kehilangan esensinya ditelan hasrat akumulasi kekuasaan.

Di antara peran-peran politik yang juga kerap diabaikan oleh Parpol adalah peran untuk melakukan pendidikan politik dan kaderisasi politik. Pendidikan politik diharapkan dapat menghasilkan pelaku-pelaku, terutama di kalangan massa, yang cerdas dalam mengambil tindakan maupun putusan politik. Sedangkan kaderisasi, selain berperan sebagai jalan regenerasi, juga memungkinkan Partai memiliki akar kuat di kalangan massa dengan tingkat kritisisme sekaligus loyalitas yang terjaga.

Tanpa kedua hal tersebut, komunikasi politik bermuatan tidak lebih daripada pencitraan kosong makna sekadar demi meningkatkan keterpilihan. Situasi ini berpeluang melahirkan politikus-politikus predator, yang mengakumulasi kekuasaan dengan cara memangsa massa pemilih minim daya nalar politik. Menghindari reproduksi predator politik, kita membutuhkan pembaruan civic culture.

Arif Susanto, analis politik Exposit Strategic
[email protected]

Share this entry:
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *