Merindukan Autokrat

Merindukan Autokrat

Indonesia pernah memiliki pemimpin kuat cenderung kharismatis seperti Soekarno, juga pemimpin kuat cenderung autokratik seperti Soeharto. Berkuasa sangat lama dan menciptakan ketergantungan massa, masing-masing mampu mewujudkan banyak hal sekaligus mewariskan berbagai problem sosial. Dengan kepribadian begitu kompleks, keduanya juga kuat mewarnai lanskap sejarah nasional.

Sejak akhir kekuasaan Soeharto, Indonesia dibelit krisis multidimensi. Meskipun perbaikan mewujud dalam berbagai sektor, tegangan dalam negosiasi kekuasaan terus menghasilkan instabilitas. Puluhan tahun dibekap otoritarianisme yang mampu menjaga tertib sosial, sebagian orang lantas berharap bukan hanya kemakmuran ekonomi, melainkan juga stabilitas politik.

Obsesi terhadap stabilitas mantap ini beriringan dengan ketidaksabaran orang terhadap demokrasi yang kurang efektif. Kerinduan terhadap pemimpin kuat lantas mereka refleksikan pada figur-figur otokratik, seperti Erdogan, Duterte, atau bahkan Putin. Hal ini tidak lepas dari absennya figur negarawan dalam pentas politik nasional, yang tumbuh begitu pragmatis dalam pertarungan kekuasaan.

Kondisi ini bukan hanya mengabarkan kegagalan regenerasi politik, melainkan pula mampatnya diskursus politik. Kegiatan politik tidak mampu melahirkan pemimpin yang progresif dan demokratis karena politik lebih bertumpu pada kontestasi kekuasaan ketimbang diskusi publik. Bukan hanya miskin gagasan, politik nasional nyaris kehilangan elan kenegarawanan.

Arif Susanto, analis politik Exposit Strategic
[email protected]

Share this entry:
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *