Pembangunan Gedung Baru DPR

Tidak mudah memahami jalan pikiran DPR. Bukan karena terlalu canggihnya argumentasi para pemimpin lembaga tersebut, melainkan lantaran miskinnya landasan logis berbagai kebijakan yang dibuatnya. Yang terakhir adalah pengajuan anggaran 2018 sebesar Rp 7,2 T, termasuk Rp 500 M di antaranya dialokasikan untuk pembangunan gedung baru DPR dan penataan kompleks gedung DPR.

Usulan pembangunan gedung baru DPR sudah muncul sejak 2006. Tiga periode DPR berkeras membawa kepentingan sendiri untuk diakomodasi dalam APBN. Pada 2011, rencana tersebut telah resmi dibatalkan dengan Rp 9 M telah dikeluarkan untuk merancang desain bangunan. Alih-alih mundur, DPR bahkan mengajukan usul penataan kompleks parlemen.

Pembengkakan anggaran DPR, termasuk untuk pembangunan gedung baru, menunjukkan tumpulnya sensitivitas DPR. Sebab, kondisi ekonomi nasional kini kurang menggembirakan. Demikian pula, kuantitas dan kualitas legislasi DPR masih memprihatinkan. Sebelumnya, telah miliaran rupiah dikeluarkan Negara untuk renovasi kompleks DPR Kalibata.

Publik juga patut curiga dengan usulan anggaran yang demikian besar, menimbang momentumnya dekat dengan penyelenggaraan Pemilu 2019. Minimnya transparansi dalam penyusunan anggaran  juga memunculkan syak wasangka bahwa ada agenda tersembunyi di belakang usulan tersebut.

Kita ingat argumen Ketua DPR 2009-2014 Marzuki Alie, “Ini cuma orang-orang elite yang paham; rakyat biasa enggak bisa dibawa.” Tampaknya, DPR memang sengaja mengisolasi diri dari aspirasi rakyat, sehingga mereka tidak mampu memahami cara pikir rakyat yang kontradiktif dibandingkan cara pikir DPR.

Arif Susanto
[email protected]

Share this entry:
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *