Pengelolaan Pangan dan Proxy War

Ilustrasi

Perekonomian Republik kerap diwarnai gejolak. Pada sisi pangan misalnya, harga cabe yang tiba-tiba melonjak, harga daging sapi yang tidak turun-turun meskipun Presiden Jokowi telah lama menginstruksikan menterinya untuk melakukan langkah-langkah konkret, harga beras dan kebutuhan pokok lain yang semakin terasa mahal, serta berbagai kondisi memprihatinkan lainnya.

Sungguh miris melihat respon terhadap keinginan presiden mewujudkan harga daging sapi murah. Respon yang muncul selama ini hanya berupa operasi pasar yang tentu saja tidak menyentuh substansi masalah.

Masalah daging sapi hanyalah gunung es dari masalah riil terkait pangan. Masalah yang sesungguhnya sudah muncul sejak awal kabinet kerja dan merupakan ancaman terhadap kedaulatan pangan. Namun tidak pernah ada langkah mendasar untuk menghilangkan ancaman ini. Menteri pertanian lebih sering terdengar bicara soal impor kebutuhan bahan pangan (yang seharusnya dilakukan menteri perdagangan) dibanding mendesain dan menerapkan langkah yang bisa memperkuat  pertanian dan peternakan. Ia tidak memiliki konsep dan aksi nyata ke arah penguatan petani dan peternak.

Bercermin pada kasus di atas, pemerintah sering kali memproduksi kebijakan-kebijakan dangkal. Kebijakan ini seringkali hanya reaksi terhadap masalah yang muncul. Selain hanya reaksi dan bukan berdasarkan konsep komprehensif, seringkali kebijakannya hanya meredam gejala, tidak menyembuhkan “penyakit”. Tidak ada langkah-langkah komprehensif yang menyelesaikan masalah sampai ke akarnya, apalagi langkah-langkah komprehensif tersistematis untuk memajukan negara.

Berbagai gonjang-ganjing terkait pangan, juga energi perlu ditempatkan dalam cara pandang yang lebih luas, cara pandang persaingan global. Berbagai kejadian yang tampaknya sporadis dan lokal, seringkali merupakan bagian dari perang global memenangkan kontestasi ekonomi. Berbagai masalah yang muncul boleh jadi merupakan bagian dari proxy war. Pemerintah semestinya berpikir dalam pola pikir global, jangan pola pikir kampung kecil.

Republik akan selalu menjadi korban proxy war selama adanya dua hal. Pertama, para penyelenggara negara tidak benar-benar melaksanakan tugas. Kedua, negara ini akan selalu menjadi sasaran kekuatan global ketika republik hanya merupakan pasar yang besar tanpa memiliki kekuatan untuk bersaing. Selama kondisinya seperti ini, berbagai negara akan melancarkan langkah-langkah untuk menjadi penguasa di pasar yang besar ini.

Share this entry:
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *