Ilustrasi

Polemik Politik Kontraproduktif

Polemik di antara elite politik akhir-akhir ini cenderung kontra-produktif, apalagi jika yang dipolemikkan adalah hal-hal yang kurang substansial. Disebut kontra-produktif bukan hanya karena hal itu tidak memberi pencerdasan politik, melainkan pula karena polemik tersebut justru memperkuat polarisasi politik, yang mengiringi kebencian berbasis identitas.

Hal yang sama juga tidak memberi pengaruh berarti terhadap tingkat keterpilihan masing-masing pasangan calon. Saat ini, dukungan terhadap kedua pasangan dapat digambarkan secara kasar sebagai berikut. Jokowi-Ma’ruf mendapat dukungan sekitar 52%, Prabowo-Sandi didukung sekitar 32%, dan sisanya belum menentukan pilihan.

Dengan sekitar 70% dari pemilih Jokowi-Ma’ruf maupun Prabowo-Sandi merupakan pemilih loyal yang sudah memantapkan pilihan mereka, model kampanye yang gaduh tidak akan memengaruhi pilihan mereka. Pada sisi lain, kampanye serupa justru sulit mendapatkan simpati dari pemilih yang masih bimbang dan lebih rasional.

Ini berarti bahwa kedua pasang calon harus mengembangkan model kampanye yang lebih cerdas, dialogis, dan kreatif. Tawaran program sebagai turunan dari visi-misi mesti dipertarungkan agar publik pemilih mendapat gambaran lebih terang untuk ditimbang. Hal ini berpeluang lebih besar untuk meningkatkan angka dukungan bagi pasangan calon dengan tawaran yang masuk akal.

Arif Susanto, analis politik Exposit Strategic
[email protected]

Share this entry:
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *