Potensi Politik Kebencian pada Pilkada 2018

Politik kebencian berbasis identitas tampak kuat membelah Jakarta pada Pilkada 2017. Isu SARA, sedemikian rupa, disalahgunakan untuk memojokkan lawan dan mengesankan pemihakan eksklusif pada kelompok sendiri. Keberhasilan taktik kotor tersebut tidak lepas dari fakta bahwa masyarakat Jakarta itu heterogen sekaligus mengidap ketimpangan sosial yang begitu senjang.

Peluang duplikasi kasus sejenis pada Pilkada serentak 2018 terbuka pada daerah-daerah yang memiliki karakteristik serupa. Selain itu, Pilkada serentak 2018 dapat disebut sebagai pemanasan menuju Pemilu 2019. Maka, daerah-daerah di wilayah Jawa dengan potensi suara besar menjadi pertaruhan penting yang potensial mengundang tegangan politik, terutama di antara partai-partai besar.

Lemahnya pelembagaan politik secara mendasar menjadi sebab mengapa ketergantungan terhadap figur pemimpin begitu tinggi dan mobilisasi politik berbasis identitas SARA begitu mudah dilakukan. Sayangnya, kelemahan semacam itu hampir meluas di seluruh daerah, sementara belum tersedia alternatif pranata sosial yang cukup solid untuk mengelola perbedaan dan potensi konflik.

Dengan situasi tersebut, partai-partai politik memiliki tanggung jawab untuk melakukan pendidikan politik. Literasi media juga dibutuhkan agar tidak mudah terjadi disinformasi di ruang-ruang publik. Penerimaan terhadap kebhinnekaan, sebagai karakter masyarakat Indonesia, juga perlu disebarluaskan. Sementara, kesiagaan keamanan dan tertib sosial menjadi kebutuhan tidak terelakkan.

Arif Susanto
[email protected]

Share this entry:
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *