PRESIDENTIAL TRESHOLD

Polemik tentang ambang batas pencalonan presiden (presidential treshold) sebenarnya tidak perlu. Sebab, setelah disepakati bahwa Pemilu Presiden dilangsungkan serentak dengan Pemilu legislatif, ambang batas tersebut menjadi tidak terlalu relevan. Kekhawatiran bahwa akan ada banyak calon Presiden-Wakil Presiden dapat diminimasi lewat dua hal.

Pertama, pencalonan hanya dapat dilakukan oleh partai atau gabungan partai yang memiliki kursi di DPR. Kedua, pasangan terpilih harus memiliki suara dukungan sedikitnya 50%+1 dengan sebaran sedikitnya pada 2/3 wilayah; jika tidak, dilakukan pemilihan putaran kedua, yang mempertegas besaran dukungan terhadap pasangan terpilih.

Ketentuan sebaran dukungan tersebut sangat sulit dipenuhi, kecuali ada pasangan yang luar biasa populer dan mendapatkan sokongan dari sejumlah besar partai, seperti pada Pemilu 2009 lalu. Ini berarti bahwa polarisasi dukungan terhadap pasangan pada putaran kedua kemungkinan besar akan mengikuti polarisasi serupa yang terbentuk di DPR.

Saat ini, ada kecenderungan bahwa PDIP, Golkar, dan Nasdem menghendaki ambang batas yang besar bagi pencalonan Presiden dan Wakil Presiden. Sementara fraksi-fraksi lain di DPR menghendaki penghapusan ambang batas tersebut. Situasi baru ini sebenarnya bukan hanya menuntut kekuatan politik di DPR untuk tidak mengabaikan ketentuan UUD 1945 saat mereka merancang UU Pemilu. Pada saat bersamaan dituntut suatu adaptasi dengan tatanan baru politik.

Selama ini, presidensialisme setengah hati sebenarnya tercipta bukan karena persoalan ambang batas, melainkan karena lemahnya budaya politik konsensual. Baik internal DPR maupun dalam kerangka hubungan DPR-Pemerintah kerap sulit terwujud konsensus, karena perilaku politik yang mengedepankan transaksi ketimbang musyawarah-mufakat. Jadi, perubahan klausul perundang-undangan ini akan tidak bermakna jika tidak diikuti oleh perubahan budaya politik konsensual.

Arif Susanto
[email protected]

Share this entry:
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *