Rivalitas Jokowi dan Prabowo pada Tahun Politik 2018

Rivalitas Jokowi dan Prabowo pada Tahun Politik 2018

Dalam berbagai survei, nama Jokowi dan Prabowo berada di urutan teratas dan sulit untuk disaingi oleh nama-nama lain. Kondisi ini konsisten, sedikitnya dalam tiga bulan terakhir pada 2017.

Oktober 2017, Populi Center merilis survei di 34 provinsi dengan hasil 49,4% masyarakat memilih Jokowi dan 21,7 persen lainnya memilih Prabowo. November 2017, simulasi dua kandidat dilakukan Poltracking Indonesia dengan hasil Jokowi didukung 53,2 persen, sedangkan Prabowo mendapat suara 33 persen. Sedangkan pada Desember 2017, survei SMRC menunjukkan 53,8 persen responden memilih Jokowi dan 18,5 persen lainnya memilih Prabowo.

Hasil beberapa survei di atas tampak menjadi validasi tegangan politik nasional dalam tiga tahun terakhir, yang lebih banyak mengerucut pada perkubuan dua figur Jokowi dan Prabowo. Jika ada kubu ketiga, yang mampu memberi nuansa berbeda pada tegangan diametrikal tersebut, pastilah berasal dari kekuatan politik SBY dan Partai Demokrat.

Situasi demikian kemungkinan akan terus berlangsung hingga 2019, ketika tidak ada figur politik yang mampu menyaingi popularitas dan elektabilitas Jokowi dan Prabowo. Konsekuensinya, tidak ada kekuatan politik alternatif di luar kedua poros, yang cukup kompetitif untuk mengubah konstelasi politik yang ada. Perubahan masih mungkin terjadi dalam konfigurasi koalisi, misalnya ada partai pendukung salah satu kubu akan menyeberang ke kubu lainnya.

Alternatif lain, yang kemungkinannya lebih kecil, adalah jika Jokowi dan Prabowo berpasangan. Kemungkinan ini masih mendapat resistensi kuat dari masing-masing kubu, kendati memperoleh dukungan cukup besar dari sebagian publik. Power sharing, yang kerap menjadi kunci stabilitas politik, akan juga sulit dilakukan jika dukungan di kalangan elite menuju hanya pada satu kutub.

Pada sisi lain, hasil Pilkada serentak 2018 akan cukup memengaruhi arah konfigurasi perkubuan politik. Terutama di wilayah Jawa, tempat bagian terbesar pemilih berada, perkubuan politik masih cukup kompleks. Koalisi Gerindra, PKS, dan PAN hanya berhasil diwujudkan di 5 provinsi, dengan tingkat efektivitas yang berlainan.

Artinya, ada jauh lebih banyak daerah yang mengambil bentuk perkubuan yang berbeda. Dengan begitu cairnya perkubuan, masih terdapat kemungkinan bahwa peta persaingan akan berubah, namun tidak akan lepas dari perkubuan diametrikal di atas.

Arif Susanto
[email protected]

Share this entry:
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *